menu123

Sunday, April 10, 2016

HIPOTESIS PENELITIAN


Di sini saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya sewaktu saya mengerjakan proposal untuk penelitian. Banyak hal yang tidak saya tahu tentang penelitian eksperimen, yang nyatanya pada saat penelitian dulu saya tidak mengambil penelitian jenis eksperimen. Jadi untuk memperdalam tentang eksperimen untuk penelitian saat ini, saya mencari informasi dari berbagai sumber terutama buku. Nah... yang saya sajikan di bawah ini mengenai hipotesis penelitian. Sumbernya saya cari dari buku yaitu bukunya Candiasa dan Sudjana.
Statistik inferensial atau statistik induktif diaplikasikan untuk kepentingan generalisasi, prediksi, dan estimasi tentang keterkaitan beberapa variabel. Kesimpulan untuk populasi pada statistik inferensial diambil
dari sampel. Karakteristik numerik dari populasi disebut statistik parameter atau biasa disebut dengan parameter. Karakteristik numerik dari sampel disebut dengan statistik sampel atau biasa disebut dengan statistik. Contoh karakteristik dari populasi adalah rerata dari populasi dan standar deviasi dari populasi, dan contoh karakteristik dari sampel adalah rerata dari sampel dan standar deviasi dari sampel.
Hipotesis penelitian merupakan dugaan sementara terhadap hasil penelitian. Dugaan tentang adanya hubungan atau perbedaan di antara nilai-nilai parameter populasi diformulasikan dalam bentuk hipotesis. Byrkit (1987) secara sederhana menyebutkan bahwa hipotesis penelitian yaitu pernyataan tentang satu atau lebih nilai parameter.
Perumusan hipotesis biasanya dilakukan berdasarkan rumusan masalah pada penelitian. Dalam penelitian, ada dua jenis hipotesis yang biasa digunakan, yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara nilai parameter populasi. Hipotesis nol digunakan untuk menentukan apakah hipotesis penelitian benar atau tidak. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan terdapat perbedaan antara nilai parameter populasi. Dalam penelitian jika H0 ditolak maka Ha diterima dengan taraf signifikansi dan derajat kebebasan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena itu, dalam penelitian pendidikan misalnya dengan menggunakan uji-t, hasil yang diharapkan adalah penolakan H0 dan penerimaan Ha. Sedangkan dalam uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians yang diharapkan adalah penerimaan H0 untuk mendapatkan data yang berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Karena itu, perumusan H0 dan Ha tidak boleh dibalik karena akan menyebabkan kesimpulan yang diperoleh dari suatu pengujian menjadi tidak tepat.
Catatan:  Dalam pengujian hipotesis, hipotesis nol dan hipotesis alternatif tidak selalu ada yang diterima dan ada yang ditolak, melainkan diperlukan pengkajian lebih mendalam. Sebagai contoh, hipotesis nol yang menyatakan u = u0 dan hipotesis alternatif menyatakan u>u0. Apabila dalam pengujian dengan statistik sampel ternyata u<u0, maka hipotesis nol tidak serta merta harus diterima, demikian pula hipotesis alternatif tidak mesti diterima, melainkan diperlukan pengkajian lebih lanjut.
Fisher (dalam Byrkit, 1987) memandang pengujian hipotesis sebagai metode untuk menyatakan bahwa suatu nilai dari parameter populasi benar atau tidak. Pengujian hipotesis selalu membawa konsekuensi kesalahan. Kondisi ini terjadi karena pengujian hipotesis memanfaatkan uji statistik sampel. Ada dua tipe kesalahan yaitu kesalahan tipe I dan kesalahan tipe II. Kesalahan tipe I adalah kesalahan berupa penerimaan hipotesis alternatif padahal hipotesis nol benar. Sedangkan kesalahan tipe II adalah kesalahan berupa penerimaan hipotesis nol padahal hipotesis alternatif benar. Atau secara sederhananya Kesalahan tipe I adalah kesalahan berupa menolak hipotesis nol padahal hipotesis nol benar. Sedangkan kesalahan tipe II adalah kesalahan berupa penerimaan hipotesis nol padahal hipotesis nol salah. Hal ini dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut:
Kesimpulan
Keadaan Sebenarnya
Hipotesis Benar
Hipotesis Salah
Terima Hipotesis
Benar
Kesalahan tipe II
Tolak Hipotesis
Kesalahan Tipe I
Benar
Kesalahan tipe I biasa disebut taraf signifikansi (α), sedangkan kesalahan tipe II biasa disebut taraf kepercayaan (β). Kesalahan tipe II atau kesalahan β pertama kali diperkenalkan oleh Neyman dan Pearson. Taraf signifikansi dan taraf kepercayaan saling berkaitan dimana jika α diperkecil maka β akan semakin besar (β = 1 – α). Penelitian pendidikan dan penelitian sosial umumnya menetapkan taraf signifikansi (α) sama dengan 1%, 5%, atau 10%, tergantung resiko kesalahan yang diinginkan oleh peneliti. Namun, umumnya dalam bidang pendidikan menggunakan taraf signifikansi 5% karena mengingat banyaknya variabel-variabel yang mempengaruhi keberhasilan pada penelitian pendidikan serta luas dan kondisi populasi penelitian. Apabila peneliti menetapkan taraf signifikansi 5%, maka peneliti berani menanggung resiko kesalahan pengujian hipotesis sekitar 5 kali untuk 100 kali eksperimen. Dengan kata lain, peneliti yakin atau percaya bahwa dari 100 kali eksperimen, 95 kali penerimaan hipotesis dilakukan dengan benar. Besar kecilnya α tergantung kepada besar kecilnya keyakinan peneliti untuk melakukan kesalahan dalam penolakan hipotesis.

Sumber: Candiasa, I.M. 2010b. Statistik Univariat dan Bivariat Disertai Aplikasi SPSS. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Sudjana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Saya tambahkan sedikit mengenai hipotesis yang menurut pendapat sendiri dan juga pendapat dari beberapa orang. Saya mendapatkan informasi ini karena sekarang saya lagi mengerjakan penelitian saya, dan mau tidak mau saya harus tahu tentang penelitian yang saya kerjakan. Dan karena ada dari teman saya yang menanyakan hal yang sama. Jadi saya jawab saja sesuai pengetahuan saya.
Jadi dalam penelitian terutama dalam penelitian pendidikan, ada yang menyajikan hipotesis lebih baik atau lebih tinggi. Contohnya gini, (1) model pembelajaran A lebih baik dari pada model pembelajaran B, (2) model pembelajaran B lebih tinggi dari pada model pembalajaran B. Menurut saya itu boleh-boleh saja, kalau menggunakan lebih baik berarti itu berkaitan dengan karakteristik dari pembelajaran yang kita gunakan dengan pembelajaran yang di kelas kontrol. Karakteristik ini bisa berupa ciri-ciri yang model kita gunakan yang memang dari teori sudah lebih lebih baik dari pembelajaran konvensional. Sedangkan, kalau menggunakan lebih tinggi berarti berkaitan dengan nilai, bisa saja nilai rata-rata. Data mengenai nilai ini kita dapatkan setelah kita melakukan penelitian. Jadi menurut saya ini boleh-boleh saja tergantung dari sudut pandang kita mengenai penelitian.

No comments:

Post a Comment