menu123

Thursday, April 7, 2016

Metaphorical Thinking


                Mungkin banyak orang yang tidak tahu metaphorical thiking ni ya Sob. Nih saya bagikan sedikit tentang metaphorical thinking yang saya buat pas saya kuliah seminar. Sebenarnya metaphorical thinking dalam bahasa sehari-hari bisa diartikan dengan analogi, dan istilah kerennya metaphorical thinking. Hehehehe..... kalau di bahasa indonesia kita ngenalnya analogi itu perumpamaan. Contohnya kayak kambing hitam, buah hati, dsb. Tapi yang saya share disini bagaimana kalau analogi itu digunakan dalam belajar matematika. Nah lebih lengkapnya langsung saja cek di bawah.

       Peranan Metaphorical Thinking dalam Pembelajaran Matematika
Perlu adanya suatu cara atau teknik sehingga memudahkan siswa memahami suatu konsep dalam matematika terutama yang bersifat abstrak. Kebanyakan siswa kesulitan dalam menerima suatu materi pelajaran matematika jika dijelaskan secara langsung (dijelaskan menurut konsep matematika
tersebut). Selain siswa mengalami kesulitan, motivasi siswa untuk mempelajari materi akan berkurang karena bagi siswa materi tersebut tidak berkaitan dengan kehidupan siswa. Siswa akan mudah mengerti apa yang dipelajari apabila pelajaran tersebut dekat dengan dunia anak/siswa. Untuk menjawab hal tersebut seperti yang sudah dijelaskan pada bagian latar belakang, penyaji mengkaji metaphorical thinking sebagai alternatif untuk menanggulangi permasalahan di atas dan bagaimana pentingnya metaphorical thinking tersebut dalam pembelajaran matematika.
Metaphorical thinking merupakan sebagai suatu proses berpikir yang menggunakan metafora-metafora atau analogi-analogi untuk memahami suatu materi tertentu agar materi tersebut mudah diterima atau dipahami oleh peserta didik. Dalam suatu pembelajaran, kadang-kadang beberapa guru memperumpamakan “tabungan” dan “hutang” sebagai cara untuk membelajarkan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Tentunya dengan cara ini siswa dapat terbantu dalam memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat tersebut. Cara guru yang dilakukan seperti ini merupakan suatu analogi dari konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Adapun peranan metaphorical thinking dalam pembelajaran yaitu metaphorical thinking dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar. Tujuan pembelajaran akan tercapai apabila siswa memiliki ketertarikan akan pelajaran. Apabila minat siswa tinggi, pembelajaran akan berlangsung dengan baik. Untuk menumbuhkan minat siswa, perlu adanya cara tertentu bagi guru. Salah satu cara bagi guru untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar matematika yaitu materi pelajaran dapat disampaikan dengan cara berbeda oleh guru. Guru dapat menggunakan metafora-metafora dalam mempelajari suatu materi.
Slameto (dalam Siagian, 2013) menyatakan minat  adalah  suatu  rasa  lebih  suka  dan  rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang  menyuruh. Minat siswa sangat dipengaruhi oleh perasaan siswa. Jika perasaan siswa senang terhadap pelajaran tertentu, minat siswa tentunya akan bertambah. Begitupun juga sebaliknya, jika perasaan siswa tidak senang terhadap pelajaran tertentu, minat siswa akan berkurang terhadap pelajaran tersebut. Seperti yang disampaikan dalam penelitian Siagian bahwa “perasaan senang akan  menimbulkan  minat pula, yang diperkuat lagi oleh sikap yang positif, sebaliknya perasaan yang tidak senang menghambat  dalam  belajar  karena  tidak  melahirkan  sikap  yang  positif  dan  tidak menunjang  minat  dalam  belajar”.
Melalui pembelajaran metaphorical thinking, pembelajaran yang berlangsung akan lebih menyenangkan, karena pada pembelajaran metaphorical thinking siswa dibelajarkan dengan menggunakan analogi-analogi. Untuk memahami konsep tertentu, siswa di bantu oleh analogi-analogi dimana analogi-analogi ini dapat di sampaikan oleh guru maupun dapat dibuat oleh siswa itu sendiri. Semakin menarik analogi yang disampaikan oleh guru maupun yang dibuat oleh siswa, tentunya ini akan berdampak pada perasaan senang siswa yang nantinya bisa menumbuhkan minat siswa untuk belajar. Seperti pada permasalahan di atas, pada saat kita membelajarkan operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat, guru bisa menganalogikan dengan “tabungan” dan “hutang”. Contohnya pada soal “3 – 2 = ...?”. Dengan analogi “hutang”, guru dapat membantu siswa dengan menanyakan kepada siswa “jika kita mempunyai hutang 3, lalu kita membayar hutang tersebut dengan 2 maka masih berapakah kita mempunyai hutang?”. Hal ini dapat menyederhanakan pemikiran siswa yang awalnya pelajaran disampaikan dengan simbol-simbol diganti dengan hal yang lebih sederhana yang cukup dekat dengan dunia siswa. Contoh lain yaitu pada soal “3.000 – 5.000 = .....?”. Dengan analogi transaksi yang biasa terjadi di minimarket atau supermarket, guru dapat membantu siswa dengan menanyakan kepada siswa “ jika kita pergi ke pasar dan membeli sebuah alat tulis yang harganya 3.000, dan kita membayarnya dengan uang 5.000 berapa kita mendapatkan kembalian?”. dengan hal-hal seperti ini yaitu materi matematika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari akan menambah menarik bagi siswa. Seperti pada contoh berikut yang diambil dari penelitian Muthmainnah (2014) dimana konsep sifat-sifat persegi panjang yaitu panjang sisi-sisi yang berhadapan dan sejajar pada persegi panjang adalah sama panjang yang dianalogikan dengan kecepatan seperti berikut “ada 4 tukang cat yang akan mengecat pinggiran lapangan. Tukang cat pertama mengecat sisi atas lapangan, tukang cat kedua mengecat sisi bawah lapangan, tukang cat ketiga mengecat sisi kiri dan tukang cat keempat mengecat sisi kanan lapangan. Mereka mengecat dengan kecepatan yang sama, tukang cat ketiga dan keempat selesai pertama secara bersamaan, lalu disusul tukang cat pertama dan kedua selesai terakhir bersamaan”. Jadi, semakin dekat analogi yang di buat oleh siswa atau guru dengan dunia siswa akan dapat menumbuhkan rasa senang kepada siswa sendiri. Rasa senang ini akan berpengaruh terhadap seberapa besar minat siswa terhadap materi tersebut.
Cara-cara sederhana seperti ini akan dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap pembelajaran. Selain motivasi, dengan analogi-analogi dapat membantu memahami konsep matematika. Misalnya saja pada permasalahan di atas, dalam menentukan faktor persekutuan dan faktor persekutuan terbesar. Faktor persekutuan dan faktor persekutuan terbesar merupakan sesuatu hal yang berbeda, dan sering kali siswa mengalami kebingungan dalam menentukan yang mana merupakan faktor persekutuan dan yang mana merupakan faktor persekutuan terbesar. Contohnya “tentukan faktor persekutuan dari bilangan 4 dan 8”. Faktor persekutuan dari dua bilangan tersebut adalah 1, 2, dan 4, sedangkan faktor persekutuan terbesarnya adalah 4. Untuk membantu membedakan faktor persekutuan dengan FPB, bisa dibantu dengan analogi sebagai berikut. “terdapat dua kotak pensil, misalnya kotak pensil merek X dan kotak pensil merek Y. Dari kedua kotak pensil tersebut di dalamnya terdapat berbagai jenis pensil, ada yang jenis pensilnya sama dan ada pula yang jenis pensilnya berbeda. Jenis pensil yang sama mempunyai ukuran panjang yang sama pula. Jenis pensil pada kotak pensil merek X: a, b, x, y, z. Jenis pensil pada kotak pensil merek Y: c, d, e, f, x, y, z”. Jadi jenis pensil yang sama pada kedua kotak tersebut adalah x, y, dan z. Analogi ini bisa di artikan sebagai faktor persekutuan dari kotak pensil merek X dan kotak pensil merek Y. Dari jenis pensil x, y, dan z yang manakah pensil yang terpanjang?. Analogi dari jenis pensil yang terpanjang ini diartikan sebagai FPB dari kotak pensil merek X dan kotak pensil merek Y”. Dengan analogi seperti ini, akan dapat membantu memahami konsep dari faktor persekutuan yaitu faktor-faktor dari dua bilangan yang sama dan FPB yaitu bilangan terbesar dari faktor persekutuan tersebut.
Selain dapat meningkatkan minat siswa, metaphorical thinking juga dapat mengurangi tingkat abstraksi sajian suatu konsep dan menyederhanakan pemikiran siswa. Hal yang membuat kebanyakan siswa menakuti pelajaran matematika adalah karena objek kajian dalam matematika bersifat abstrak. Konsep yang abstrak ini bagi sebagian besar siswa merupakan suatu hal yang susah dipahami karena terlalu rumit bagi siswa. Mulai dari matematika tingkat dasar sampai dengan matematika tingkat SMA, siswa tidak dapat menghindari abstraksi dalam matematika. Contohnya saja pada aljabar, persamaan linier satu variabel, persamaan linier dua variabel, dll.
Melalui metaphorical thinking, penyajian materi matematika dapat dikurangi tingkat keabstrakannya. Hendriana (2012) menyatakan bahwa metaphorical thinking didefinisikan  sebagai  suatu  proses  berpikir  untuk  memahami  dan mengkomunikasikan  konsep-konsep  abstrak  dalam  matematika  menjadi  hal yang lebih konkrit dengan membandingkan 2 hal yang berbeda makna. Dengan menggunakan metafora-metafora, konsep matematika yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk yang lebih sederhana dan menarik bagi siswa.  Menurut  Hendriana (2012),  berpikir  metaforik  dalam  matematika  digunakan untuk memperjelas jalan  pikiran  seseorang  yang  dihubungkan  dengan  aktivitas matematikanya. Contohnya pada saat membelajarkan materi persamaan linier satu variabel, guru dapat menyajikan dengan analogi timbangan.                                                               
  Melalui penyajian materi dengan timbangan tersebut, guru dapat menanyakan kepada siswa “coba perhatikan timbangan di atas, agar timbangan tersebut seimbang, berapa bola warna biru dalam kotak tersebut?”. Selain dengan timbangan di atas, persamaan linier satu variabel dapat dianalogikan dengan sesuatu yang lain. Misalnya “ , ditanyakan ”. Soal seperti ini dapat di analogikan dengan cerita, “Andi mempunyai 20 kelereng di rumahnya, sedangkan Anton tidak mempunyai kelereng satupun. Suatu ketika, paman Anton memberikan dua bungkusan kelereng kepada Anton dengan kedua bungkusan tersebut banyak kelereng yang di dalamnya sama banyak. Berapa banyak kelereng dalam satu bungkus yang diharapkan oleh Anton agar kelereng Anton banyaknya sama dengan kelereng Andi?”. Dari dua contoh analogi di atas, sajian materi dapat di buat dalam bentuk permaian timbangan atau dalam bentuk cerita. Penyajian seperti ini akan mengurangi simbol-simbol langsung sehingga tujuan dari pembelajaran dapat lebih mudah tercapai. Penyajian seperti ini juga dapat meningkatkan perasaan senang siswa karena siswa memperoleh pengetahuan melalui permainan dan yang dikaitkan dengan soal cerita. 
Selain dengan permainan atau soal cerita, untuk dapat menyederhanakan pemikiran siswa untuk mengertikan konsep dalam matematika ataupun dalam menjawab pertanyaan siswa dapat membuat analogi atau metafora dengan gerakan tubuh. Contohnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Hendriana yaitu “ruas  garis    panjangnya  .  Titik    terletak  pada  ruas  garis  . Bentuklah  persegi    dan  ,  dengan  mempertimbangkan  keliling dari  bangun  yang  dibentuk  dari  dua  persegi  tersebut  ( ).  Jika posisi  berubah bagaimana dengan perubahan kelilingnya?” Dalam menyelesaikan soal ini metaphorical thinking siswa dapat dilihat dalam merepresentasikan  titik  statis    yang  bergerak  pada  segmen  ,  dimana  siswa dapat menggerakkan  jari-jari  tangannya  dari  kiri  ke  kanan   atau  sebaliknya  untuk menunjukkan  rangkaian  pergeseran   titik    pada  segmen  .  Kemudian  ia menyatakan  simbol  pergeseran  tadi  dalam  sebuah  variabel    sehingga  pada akhirnya diperoleh suatu fungsi yang menyatakan hubungan antara perubahan nilai  dengan keliling bangun . Dengan siswa melakukan hal seperti ini akan memperjelas pemikiran siswa sehingga soal yang dirasa sulit akan terlihat lebih sederhana karena dibantu oleh metafora tersebut. Metaphorical thinking dapat mengurangi tingkat abstraksi sajian suatu konsep ini juga didukung oleh penelitian Muthtar melalui penelitiannya dengan judul “Peningkatan Kemampuan Abstraksi dan Generalisasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Metaphorical Thinking”.
Metaphorical thinking juga berperan terhadap ingatan siswa. Melalui analogi-analogi ingatan siswa terhadap suatu konsep akan semakin lama. Banyak yang mengeluhkan matematika itu kebanyakan rumus. Perlu ingatan yang kuat untuk dapat pintar dalam matematika. Pendapat seperti ini tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Karena untuk belajar matematika diperlukan juga ingatan, ingatan tentang rumus agar nantinya jika dihadapkan pada soal yang menggunakan rumus tersebut kita bisa menjawab soal tersebut dengan cepat. Tentunya ingatan disini maksudnya bukan hanya sekedar menghafal tanpa mengetahui asal-usul rumus tersebut. Ingatan disini maksudnya yang disertai dengan pemahaman. Sebelum rumus tersebut di ingat tentunya rumus tersebut harus dipahami terlebih dahulu.
Melalui metaphorical thinking konsep-konsep dalam matematika dapat disajikan dengan menarik. Sesuatu hal yang menarik akan berdampak terhadap ingatan siswa, karena bagi siswa hal yang menarik tampak lebih berkesan. Sesuatu hal yang menarik akan berdampak terhadap ingatan siswa. Hendriana (2012) menyatakan dalam pembelajaran matematika penggunaan metafora oleh siswa merupakan suatu cara untuk menghubungkan konsep-konsep  matematika  dengan  konsep-konsep  yang  telah  dikenal  siswa dalam kehidupan sehari-hari, dimana dia mengungkapkan konsep matematika dengan  bahasanya  sendiri  yang  menunjukkan  pemahaman  siswa  terhadap konsep tersebut. Misalnya seperti pada contoh sebelumnya yaitu operasi penjumlahan yang di analogikan dengan “tabungan”. Kata tabungan di sini sudah cukup dikenal oleh siswa dan dengan menggunakan analogi tabungan, akan menambah ketertarikan siswa. Contohnya “25.000 + 5.000 = ...?”. Soal ini bisa di analogikan sebagai berikut “ Ciko mempunyai tabungan di sekolah sebesar 25.000, hari ini Ciko akan menabung sebesar 5.000. Berapakah banyak tabungan Ciko setelah menabung sebesar 5.000?”, contoh lainnya yaitu analogi pada perkalian bilangan negatif dan positif. Bilangan positif (+) di analogikan dengan sesuatu yang benar, dan bilangan negatif (-) di analogikan dengan sesuatu yang salah. Analoginya sebagai berikut:
1.        “bilangan positif kali bilangan positif hasilnya positif” ini dianalogikan dengan “mengatakan benar terhadap sesuatu yang benar adalah suatu tindakan yang benar”.
2.        “bilangan positif kali dengan bilangan negatif atau sebaliknya bilangan negatif kali dengan bilangan positif hasilnya negatif” ini dianalogikan dengan “mengatakan benar terhadap sesuatu yang salah atau sebaliknya mengatakan salah terhadap sesuatu yang benar adalah suatu tindakan yang salah”
3.        “bilangan negatif kali dengan bilangan negatif hasilnya positif” ini dianalogikan dengan “mengatakan salah terhadap sesuatu yang salah adalah suatu tindakan yang benar”

7 comments:

  1. bos buku tentang metaphorical thinking ada ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum nemu bos, tu sumbernya dari artikel dalam dan luar negeri aja bos

      Delete
  2. Boleh tau jurnal luar negrinya kah pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba cek "Supporting the Aesthetic Through Metaphorical
      Thinking"

      Delete
  3. Ada tidak Kelebihan dan kekurangan dari metaphorical thinking?

    ReplyDelete
  4. kalau menurut pemahaman saya, kelebihannya materi gampang ditangkap oleh siswa karena kita bisa menganalogikan materi sesuai bahasa mereka, sesuai apa yang mereka kenal dan pahami secara umum. kalau kekurangan tidak semua materi gampang untuk dianalogikan

    ReplyDelete
  5. kak, hubungan mtahporical thinking dan gaya belajar Learning Style Inventory apa ya?

    ReplyDelete