menu123

Tuesday, August 25, 2015

Program Muatan Lokal Kidung Sebagai Upaya Pelestarian Kidung di Bali


Hei Sob,,, Mau posting sesuatu lagi nih... Kembali lagi ke jaman 5 tahun yang lalu... Hehehehe.. Waktu saya mulai kuliah dulu... Yang saya posting kali ini adalah tugas saya pas mata kuliah Agama Hindu... Memang kelestarian itu perlu di jaga. Apalagi kelestarian Kidung di Bali. Jadi dalam makalah ini saya sampaikan "Program Muatan Lokal Kidung Sebagai Upaya Pelestarian Kidung di Bali". Ya agar tidak lama-lama
langsung saja cek di bawah ya.....


RINGKASAN
Seni tembang di Bali kususnya kidung merupakan salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh pulau Bali dan merupakan seni tembang yang sangat penting dalam upacara-upacara agama Hindu. Seni tembang di Bali  yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Kidung diduga datang dari Jawa abad XVI sampai XIX akan tetapi kemudian kebanyakan ditulis di Bali.  Dalam upacara-upacara agama Hindu kidung dinyanyikan untuk mengiringi upacara yadnya. Kidung memiliki tugas masing-masing dalam mengiringi upacara. Misalnya saja dalam upacara Dewa Yadnya kidung yang dinyanyikan adalah kidung Kawitan Wargasari, Wargasari Mredu Komala dan kidung yang lain yang cocok dinyanyikan dalam upacara Dewa Yadnya. Upacara-upacara yang lain juga memiliki kidung-kidung yang mengiringi upacara tersebut
Seni tembang di Bali khususnya kidung sudah mulai pudar di kalangan masyarakat. Khususnya para remaja saat ini sedikit yang bisa mekidung. Remaja saat ini lebih menyukai musik luar daripada musik yang ada di daerahnya sendiri. Karena kebanyakan remaja menganggap mengenal lebih banyak musik luar akan meningkatkan percaya diri mereka, daripada mengenal kidung. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sedikitnya minat para remaja terhadap kidung salah satunya adalah kurang pahaman para remaja terhadap kidung tersebut. Kidung di Bali sangat penting karena seperti penjelasan di atas kidung merupakan tembang yang dinyanyikan untuk mengiringi suatu upacara agama. Lebih mengenal kidung secara tidak langsung lebih mengenal upacara yadnya, karena kidung dinyanyikan saat upacara tersebut berlangsung.
Muatan lokal merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah dari sekolah SD kelas 5 sampai SMA untuk membangkitkan minat para remaja untuk belajar mekidung. Dengan belajar dari kecil diharapkan dapat menumbuhkembangkan anak-anak untuk menyukai kidung di samping juga seni tembang yang lainya dan juga dengan belajar kidung dari kecil akan lebih mengenal kidung secara luas. Misalnya mereka akan lebih mengenal kegunaan kidung, fungsi kidung dan lain sebagainya yang ada hubungannya dengan kidung. Dengan belajar mekidung dan bisa mekidung mereka akan bisa berbakti kepada Ida Hyang Widi Wasa karena mereka akan bisa melakukan ngayah mekidung saat ada upacara-upacara tertentu. Tentunya dengan melakukan hal ini mereka akan bisa meningkatkan kepribadian spiritualitas merekadan juga untuk menanamkan nilai-nilai suci Weda ke dalam lubuk hati sanubari dengan cara menyanyikannya dengan penuh keyakinan
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam program ini di antaranya sekolah-sekolah itu sendiri. Sekolah mempunyai peran penting dalam program ini, tanpa sekolah yang mengeluarkan kebijakan kidung sebagai muatan lokal tentunya hal tersebut tidak akan berjalan dengan lancar. Sekolah mempunyai peran yang pertama untuk menumbuhkan kembangkan minat anak-anak atau remaja dalam hal mekidung. Di samping sekolah-sekolah mengeluarkan kebijakan, masyarakat juga harus mendukung program tersebut, karena tanpa masyarakat program tersebut tidak akan bisa berjalan dengan lancar. karena yang akan melakukan program tersebut adalah masyarakat itu sendiri.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Budaya Bali sangat kaya dengan seni tembang dan karawitan. Tidak hanya yang telah diwariskan oleh leluhur, karya-karya baru masih terus bermunculan. Baik yang klasik maupun kontemporer. Tidak akan habis kalau pembicaraan kita kembangkan hingga mencakup lagu-lagu pop Bali. Harapan kita tentu saja, agar gema yang baru tidak menenggelamkan yang telah ada. Demikian pula, semoga yang baru mempunyai kualitas dan bobot yang cukup baik dari segi isi dan keindahan. Suara yang baik dan indah memberi kekuatan kepada jiwa, menentramkan galau dan kegelisahan hati, membersihkan perasaan dari prasangka buruk dan menerangi kalbu.
Di Bali nyanyian atau tembang dapat dibagi menjadi empat yaitu gegendingan, pupuh, kidung, dan kekawin. Gegendingan digunakan bukan untuk mendukung upacara, tetapi lebih bersifat hiburan, dan dewasa ini gegendingan sudah banyak menggunakan irama pop dijual dalam bentuk kaset ada yang berbahasa Bali ada yang bahasa Indonesia. Sedangkan  Pupuh, Kidung, dan Kakawin adalah untuk mendukung suatu upacara dalam kaitan Panca Yadnya. Irama dan liriknya sudah diatur sesuai dengan tujuan upacara. Namun yang menjadi masalah sekarang ini sedikit minat para remaja dalam melestarikan pupuh, kidung dan kekawinn tersebut, terutama dalam hal mekidung. Mereka lebih suka musik yang modern daripada melestarikan budayanya sendiri. Padahal kidung merupakan hal yang penting dalam melakukan suatu upacara, apalagi upacara yang besar kidung wajib dilantunkan.
Banyak remaja yang meninggalkan budayanya sendiri karena beberapa faktor baik itu dari luar maupun dari dalam yang dapat mempengaruhi kelestarian kidung tersebut. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi adalah kurang pahaman remaja terhadap kidung di Bali. Pada saat upacara agama Hindu, kidung merupakan salah satu sarana penting untuk lancarnya suatu upacara agama Hindu. Kesadaran dalam diri masing-masing juga merupakan faktor yang penting dalam kelestarian kidung di bali. Karena tanpa kesadaran masing-masing individu hal sekecil sekalipun tidak akan bisa tercapai.
Untuk menigkatkan kidung di bali telah dilakukanya Utsawa Dhama Gita kidung tingkat nasional. Utsawa Dhama Gita ini dilakukan di beberapa daerah di indonesia. Meskipun sudah dilakukannya  Utsawa Dhama Gita kidung tingkat nasional hal tersebut tidak cukup untuk memasyarakatkan kidung kepada anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Perlu adanya gagasan baru untuk menumbuhkan jiwa anak terhadap kidung agar kidung semakin melekat di jiwa anak-anak maupun remaja. Dengan tersebarnnya kidung di kalangan anak-anak maupun remaja, mereka akan menjadi calon yang dapat melakukan Utsawa Dhama Gita kidung di tingkat nasional bahkan akan bisa di tingkat internasional.

 Tujuan  
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan umum
Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk lebih mengenalkan kidung kepada masyarakat terutama para remaja dan anak-anak sehingga akan tercipta kelestarian seni tembang di Bali.
2.      Tujuan khusus
Tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh program muatan lokal tembang di Bali dapat mengatasi permasalahan kelestarian seni tembang di Bali.

Manfaat
Melalui makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:
1.      Menggugah partisipasi dan kesadaran masyarakat Bali untuk tetap menjaga seni tembang sendiri kususnya seni tembang kidung.
2.      Memberikan gambaran kepada masyarakat Bali bagaimana cara untuk melestarikan seni tembang Bali terutama dalam hal kidung.
 
GAGASAN
Kidung di Bali
Di Bali terdapat begitu banyak seni tembang yang perlu dilestarikan, yaitu salah satunya adalah kidung. Kidung atau sekar madya merupakan salah satu seni tembang Bali yang merupakan lagu pemujaan, umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Kidung diduga datang dari Jawa abad XVI sampai XIX akan tetapi kemudian kebanyakan ditulis di Bali. Hal ini dapat dilihat dari struktur komposisinya terbukti dengan masuknya ide-ide yang terdiri dari Pangawit, Panama dan Pangawak yang merupakan istilah-istilah yang tidak asing lagi dalam tetabuhan Bali.
Dalam Sarsamuscaya 75 disebutkan agar empat hal tidak muncul dari lidah yaitu Ujar Ahala yaitu kata-kata jahat. Ujar Pisuna artinya kata-kata yang mengandung fitnah. Ujar Mithyaa artinya kata-kata bohong, dan Ujar Apergas artinya kata-kata kasar. Jadi menerapkan mantra Weda itu dengan nyanyian suci yang disebut gita dalam bahasa Sansekerta dan kidung dalam bahasa Jawa Kuna.
Istilah kidung akhirnya mewarga ke dalam khazanah bahasa dan budaya Bali. Kumpulan mantra Weda ada yang disebut Rgveda. Rg artinya nyanyian suci. Mantra-Mantra Rg Veda yang dinyanyikan serta diberikan melodi disebut Samaveda. Sedangkan yang dijadikan dasar melangsungkan upacara yadnya disebut Yajurveda. Oleh karena itu, Rgveda, Samaveda dan Yajurveda disebut Tri Veda.
Mantra Weda tergolong Prabhu Samhita artinya kumpulan mantra yang penuh wibawa, sehingga masyarakat awam tidak mudah untuk merapalkan. Oleh karena itu, nilai-nilai suci Weda itu dijabarkan lebih mudah ke dalam Purana yang disebut Suhrita Samhita. Suhrita artinya kumpulan yang lebih ramah. Demikian pula untuk dapat menyerap nilai-nilai suci Weda itu direkonstruksi ke dalam nyanyian-nyanyian suci dalam bahasa setempat, sehingga nilai suci itu lebih mudah menghayatinya.
 Di Bali nyanyian-nyanyian tersebut disebut dengan  kidung-kidung selalu dilakukan dan dimainkan bersama-sama dengan instrumen. Lagu - lagu kidung ini ditulis dalam lontar tabuh-tabuh Gambang dan oleh karena itulah laras dan namanya banyak sama dengan apa yang ada dalam penggambangan, menggunakan laras pelog Saih Pitu (Pelog 7 nada) yang terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pemaro/ tengahan.
Dalam kaitaanya dengan upacara yadnya, tidak semua kidung dapat ditembangkan. Misalnya saja dalam upacara Dewa Yadnya kidung yang dapat ditembangkan adalah Kawitan Wargasari, Wargasari Mredu Komala, Totaka, Wargasari, warga sirang. Jadi kidung mempunyai tugas masing-masing menurut upacaranya. Begitupun juga upacara Rsi Yadnya kidung yang dapat ditembangkan adalah Rsi Bojana: Wilet Mayura, Bramara Sangupati, Palu Gangsa. Upacara Manusa Yadnya yang dapat ditembangkan demung sawit, kawitan tantri, malat rasmi, tunjung biru. Upacara Pitra Yadnya yang dapat ditembangkan adalah Sewana Girisa. Bala Ugu, Indra Wangsa, Andri, Praharsini, Aji Kembang, Sikarini, Asti, Wilat Kelengangan dan Upacara Buta Yadnya yang dapat ditembangkan adalah Pupuh Jerum.
Keberadaan Kidung di Bali
Nilai-nilai suci Weda dapat dikidungkan dengan bahasa yang sudah populer di daerah di mana ajaran Hindu itu diamalkan. Meskipun demikian di tiap daerah mempunyai sistem budaya tersendiri. Oleh karena itu, kidung itu dituangkan dengan mengikuti sistem budaya setempat, sehingga kidung itu tetap disakralkan sesuai dengan kondisi budaya setempat. Meskipun demikian, sangat diperlukan suatu upaya ke depan agar umat Hindu memiliki kidung yang berskala nasional Indonesia. Bahkan, kalau mungkin memiliki kidung yang berskala internasional.
Event Utsawa Dharma Gita yang sudah sering diselenggarakan hendaknya mengarahkan terbentuknya kidung nasional, bahkan internasional dengan tetap memelihara dan mengembangkan kidung-kidung daerah. Dengan demikian akan dapat menampung mobilitas umat yang dalam era globalisasi ini sudah mencapai tingkat nasional dan internasional.
Adapun Pelaksanaan Utsawa Dhama Gita tingkat nasional pertama sampai ke delapan berlangsung di;
  1. Utsawa Dhama Gita tingkat nasional pertama dilaksanakan di Denpasar, Bali pada 1978. Saat itu namanya Pembinaan Seni Sakral. Jenis kegiatannya; pembinaan nyanyian pengiring tari Sanghyang, jenis-jenis kidung dan kekawin dengan kekhasan daerah masing-masing dan diikuti utusan se-provinsi Bali. 
  2. Utsawa Dharma Gita II berlangsung di Denpasar pada 1979. Jenis kegiatan; parade seni, pameran foto, kekawin, kidung macapat, dan phalakwaya yang diikuti utusan kabupaten se-provinsi Bali.
  3. Utsawa Dharma Gita III juga berlangsung di Denpasar pada 1980. Jenis kegiatan; parade seni, pameran foto, kekawin, kidung, phalakwaya yang diikuti utusan kabupaten se-provinsi Bali dan Lombok. 
  4. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IV berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 1991. Jenis kegiatannya; parade seni, utsawa pembacaan Sloka, utsawa pembacaan Phalakwaya, Dharma Widya, parade kidung daerah, sarasehan, dan pameran. Juara umum diraih kontingen Provinsi Bali.
  5. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional V dilaksanakan di Solo-Surakarta, Jawa Tengah, pada 1993. Jenis kegiatan; parade seni, utsawa pembacaan Sloka, utsawa pembacaan Phalakwaya, Dharma Widya, parade kidung daerah, sarasehan, dan pameran. Juara umum diraih kontingan Provinsi Jawa Tengah. 
  6. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VI dilaksanakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 1996. Jenis kegiatan; parade seni, utsawa pembacaan Sloka, utsawa pembacaan Phalakwaya, Dharma Widya, parade kidung daerah, sarasehan, dan pameran. Juara umum diraih Provinsi Bali. 
  7. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VII dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 2000. Jenis kegiatan; parade seni, utsawa pembacaan Sloka, utsawa pembacaan Phalakwaya, Dharma Widya, parade kidung daerah, sarasehan, dan pameran. Juara umum diraih Provinsi Bali
  8. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional VIII dilaksanakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 2002 Jenis kegiatan; parade seni, utsawa pembacaan Sloka, utsawa pembacaan Phalakwaya, Dharma Widya, parade kidung daerah, sarasehan, dan pameran. Juara umum diraih Provinsi Bali. 
  9. Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional IX dilaksanakan di Bandar Lampung, Lampung pada 2005. Jenis kegiatan; parade seni, utsawa pembacaan Sloka pasangan remaja putra-putri, utsawa pembacaan Phalakwaya pasangan putra-putri, utsawa pembacaan Phalakwaya dewasa putra-putri, Dharma Widya tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), Dharma Wacana tingkat remaj a dan dewasa, utsawa kidung/lagu-lagu keagamaan daerah, sarasehan, dan pameran. Utsawa Dharaia Gita Tingkat Nasional IX diikuti peserta dari 29 provinsi dan utusan negara sahabat seperti India. 
  10. Utsawa Dharma Gita tingkat Nasional X dilangsungkan di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 27 Juli- 1 Agustus 2008.
Pertemuan antardaerah dan suku atau kelompok lainnya sesama umat Hindu perlu lebih sering dilakukan. Pertemuan menyangkut masalah kidung ini perlu dihadirkan para pakar dalam seni kidung ini. Penelitian dan eksperimen-eksperimen sangat diperlukan dalam membina dan mengembangkan kidung sebagai gita atau nyanyian suci memuja Tuhan untuk membangun kekuatan rohani umat Hindu dalam meningkatkan kualitas perilaku dan daya tahan mentalnya menghadapi kehidupan yang makin dinamis ini.
Disamping sudah banyaknya pelaksanaan Dharma Gita tingkat nasional dilakukan, Pesatnya perkembangan zaman sekarang ini juga sangat mempengaruhi seni tembang di Bali. Lagu dari luar begitu pesat masuk ke Bali terutama lagu dari luar negeri. Jiwa para remaja saat ini sudah di pengaruhi lagu yang asalnya dari luar negeri. Karena kebanyakan dari mereka mengira lagu dari luar negeri akan meninggikan gengsi mereka. Bahkan tidak sedikit dari remaja yang mengikuti mode luar negeri, menurut penyanyi yang mereka kagumi. Tentunya hal ini berdampak bagi kelestarian seni tembang di Bali. Ini menyebabkan tertinggalnya lagu-lagu daerah sendiri terutama dalam hal mekidung. Kalau hal ini terus terjadi pelaksanaan kidung yang sudah tingkat nasional akan semakin menurun.
Kidung di Bali sekarang ini kurang diminati oleh para remaja Bali, mungkin karena beberapa alasan tertentu. Meskipun sudah banyak pelaksanaan kidung tingkat nasional dilakukan, itu hanya beberapa orang saja yang mahir mekidung. Kalau hal ini terus-terusan terjadi kemungkinan akan semakin sedikit orang yang bisa mekidung. Ini akan menyebabkan semakin menurunnya kebudayaan Bali yang semulanya di jaga dan dilestarikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya minat para remaja akan seni tembang Bali terutama dalam hal mekidung, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Faktor dari dalam
1.      Kekurang pahaman para remaja akan kidung di Bali.
Remaja saat ini kurang mengetahui arti seni tembang di Bali terutama kidung, mereka lebih mengenal lagu luar daripada seni tembang sendiri. Akibatnya banyak para remaja kurang mengenal seni tembang terutama dalam hal kidung yang merupakan nyanyian untuk mengiringi suatu Upacara Yadnya.
2.      Kekurang pahaman para remaja akan upacara yadnya
Kekurang pahaman terhadap upacara yadnya juga berdampak terhadap kurangnya minat para remaja terhadap kidung. Seperti yang sudah dijelaskan diawal kidung merupakan lagu/nyanyian yang berperan penting terhadap jalannya suatu Upacara Yadnya. Kalau para remaja tidak tahu arti dari upacara yang dilakukan tentunya para remaja tersebut kurang antusias mendengarkan kidung pada saat itu apalagi untuk belajar kidung.
3.      Kesadaran masing-masing individu
Sekarang ini kesadaran para remaja terhadap kidung sangat kurang. Kesadaran remaja untuk melestarikan kidung sudah mulai pudar. Hal tersebutlah yang menyebabkan anak-anak dan juga para remaja tidak banyak yang bisa mekidung.
b.      Faktor dari luar
1.      Pengaruh lingkungan
Pengaruh lingkungan sangat berperan penting terhadap perkembangan kidung di Bali. Jika seseorang tinggal di lingkungan yang mayoritas beragama Hindu dan juga Bali, orang tersebut akan lebih mengenal kidung daripada orang yang tinggal di tempat yang mayoritas beragama non hindu dan tidak di Bali.
2.      Pengaruh teman
Pengaruh teman juga menyebabkan kurang minatnya para remaja terhadap kidung. Misalnya saja teman yang suka lagu lain dan lagu dari dalam kurang diminati, lama kelamaan kita akan terpengaruh oleh gaya meraka. Kalau kita tidak membentengi diri sejak dini yaitu dengan menyukai lagu daerah sendiri tentunya kita akan mudah terpengaruh.
Mata Pelajaran Muatan lokal Kidung sebagai sarana menumbuhkan minat terhadap kidung di Bali
Pembelajaran kidung yang dilakukan secara dini perlu dilakukan untuk meningkatkan minat para remaja ataupun anak untuk dapat menyelenggarakan Utsawa Dhama Gita kedepannya. Remaja akan lebih mengenal kidung dari hal yang paling dasar sampai ke hal yang paling tinggi. Untuk itu diharapkan dari SD kelas 5 sampai SMA ada muatan lokal mekidung mengingat betapa pentingnya mekidung bagi umat yang beragama Hindu. Hal ini seharusnya diwajibkan bagi anak yang beragama Hindu mengenal yang namanya kidung. Melalui kidung mereka tidak hanya bisa menyanyikan saja tetapi melalui kidung juga lebih mengenal Upacara Yadnya yang dilakukan di Bali, karena kidung dan upacara yadnya sangat berkaitan satu sama lainya.
Berikut dijelaskan keuntungan seseorang bisa mekidung diantaranya sebagai berikut:
1.      Memuja Tuhan
Memuja Tuhan dengan nyanyian suci Bhagawad Gita disebut Bhajan. Dengan mempelajari kidung yaitu nyanyian suci Bhagawad Gita seseorang akan dapat memuja Tuhan. Orang yang seperti itu disebut dengan Bhajan. Oleh karena itu, dalam Bhagawad Gita ada beberapa sloka yang menyebutkan istilah Bhajan. Sementara dalam beberapa sumber sastra Hindu yang lainnya juga disebut dengan istilah Khirtan. Di Jawa dan Bali nyanyian suci itu disebut Kidung. Umat Hindu di Kaharingan menyebutnya dengan istilah Kandayu,
2.      Dapat melakukan Karma Marga berupa ngayah.
Dengan mempelajari kidung seseorang akan dapat melakukan karma marga berupa ngayah yang ada di Bali. Seseorang akan dapat memberikan suatu pelayanan terhadap pura ataupun upacara tersebut.
3.      Dapat menambah wawasan dan pengetahuan terhadap kidung.
Dengan mempelajari kidung wawasan seseorang akan lebih luas. Orang tersebut akan lebih mengenal bagaimana cara menyanyikan kidung, bagaimana peranan kidung terhadap upacara yadnya, kidung-kidung apa saja yang dapat dinyanyikan dalam upacara panca yadnya dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kidung.
4.      Dapat menambah pengetahuan terhadap bahasa bali.
Dengan mekidung secara tidak langsung akan dituntut untuk mengartikan apa arti kidung yang dinyanyikan. Arti dapat pahami apabila mengerti bacaan yang dinyanyikan. Selain dapat menyayikan seseorang yang mekidung diharuskan tahu apa makna dari kidung tersebut.
5.      Dapat meningkatkan spiritualitas terhadap ke Hinduan
Dengan mempelajari kidung seseorang dapat menigkatkan spiritualitas kehinduannya.
6.      Dapat meningkatkan keakraban
Pada tingkat substansi kidung ini tidak berfungsi sebagai seni untuk membangun kekuatan spiritual semata, tetapi juga dapat menjadi media untuk meningkatkan keakraban sosial sesama umat Hindu yang ada di seluruh dunia ini. Masyarakat kidung ini adalah masalah yang menyangkut aspek yang luas seperti cita, rasa dan karsa, makanya tidak perlu gagasan ini ditanggapi dengan cara yang tergesa-gesa, menerima atau menolaknya.
Hal di atas dapat dilakukan tentunya harus bisa mekidung. Inilah peran muatan lokal kidung dilaksanakan untuk dapat mekidung sejak dini. Adapun manfaat dari kidung sebagai program muatan lokal di sekolah adalah sebagai berikut:
1.      Dapat memasyarakatkan kidung
Dengan adanya kidung sebagai muatan lokal disekolah tentunya setiap anak yang sekolah akan mendapatkan muatan lokal tersebut. hal ini akan mengakibatkan tersebarluasnya kidung di kalangan anak-anak dan remaja.
2.      Meningkatkan jiwa anak-anak terhadap kidung
Belajar kidung dimulai dari SD akan meningkatkan jiwa anak terhadap kidung karena mereka dapat melatih kidung sejak awal.
Hal tersebut akan bisa tercapai apabila sejak dini anak dibekali dengan pelajaran mekidung dan peran dari pihak-pihak yang bersangkutan juga diperlukan. Berikut beberapa pihak yang dapat mewujudkan program kidung sebagai muatan lokal di sekolah:
1.      Sekolah-sekolah
Melestarikan seni tembang di Bali terutama kidung sebagai muatan lokal di sekolah sangat dipengaruhi oleh kebijakan sekolah untuk menetapkan kidung sebagai muatan lokal. Dengan memberikan kebijakan untuk menetapkan kidung sebagai muatan lokal diharapkan kelestarian kidung dapat lebih dijaga. Karena kita sebagai generasi muda akan dapat mengenyam pendidikan mekidung sebagai muatan lokal.
2.      Masyarakat luas
Kebijakan sekolah akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila masyarakat luas mendukung program tersebut. Masyarakat sangat mempunyai peranan penting dalam tercapainya program ini karena masyarakat luaslah yang akan mendapatkan keuntungan dari program ini.
3.      Guru kidung
Program ini dapat dilaksanakan tentunya harus ada guru yang bisa mekidung yang akan mengajarkan anak-anak disekolah. Guru yang diharapkan adalah guru bisa mekidung sekaligus tahu akan makna kidung yang dinyanyikan tersebut.

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang bisa ditarik dari penjelasan diatas adalah sebagai berikut:
  1. Di Bali terdapat begitu banyak seni tembang yang perlu dilestarikan terutama kidung yang sekarang ini kurang diminati oleh para remaja dan anak-anak. 
  2. Banyak faktor yang menyebabkan kurangnya minat para remaja terhadap kidung di Bali yaitu faktor dari dalam salah satunya dari setiap individu dan faktor dari luar yaitu lingkungan. 
  3. Kelestarian kidung di Bali dapat ditempuh dengan cara program kidung sebagai muatan lokal di sekolah. Program ini diberikan dari SD kelas 5 sampai SMA. 
  4. Program ini dapat berjalan dengan lancar apabila pihak-pihak yang bersangkutan yaitu sekolah, masyarakat, dan guru yang mengajar dapat mendukung terwujudnya program ini.








No comments:

Post a Comment